News & Events
March 9th, 2011

Sebagian wilayah di Tanah Air rusak akibat aktivitas pertambangan. Kalimat itu kerap didengungkan sejumlah pihak, terutama para penggiat lingkungan ataupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) pencinta lingkungan.

Alasannya sederhana, terdapat sejumlah kerusakan bentang alam akibat penambangan yang dilakukan secara masif. Pertanyaan kemudian, apakah keberadaan tambang selama ini cukup memberikan manfaat. Jawabannya cukup variatif.

Menurut para penggiat lingkungan, pertambangan berkontribusi melahirkan krisis bagi lingkungan dan penduduk sekitar. Ribuan hektare hutan hancur jadi pemandangan yang kasat mata di negeri ini. Lubang-lubang tambang menjadi pemandangan yang biasa ditemui di Indonesia. Hal itu semakin diperparah dengan izin tambang yang diobral dengan alasan peningkatan pendapatan daerah.

Namun perlu diingat, selain dampak kerusakan bentang alam, dunia pertambangan tak bisa lepas dari kehidupan manusia, terutama menyangkut hasil olahan tambang.

Saat ini, hampir sebagian besar yang digunakan manusia dalam menunjang aktivitas hidupnya berasal dari hasil bahan dasar tambang. Sebut saja telepon seluler, komputer, kendaraan bermotor, perhiasan, bahan bakar pembangkit, dan masih banyak lagi. Bayangkan bagaimana kehidupan manusia tanpa bahan tambang!

Selain itu, kegiatan penambangan juga kerap menjadi roda penggerak perekonomian. Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh, awal tahun ini, mengatakan, pemerintah menerima setoran dari sektor energi dan pertambangan sebesar Rp 288,5 triliun. "Setoran energi dan pertambangan tahun lalu melampaui target yang ditetapkan semula, yakni Rp 276,8 triliun," kata dia.

Rincian penerimaan tersebut adalah penerimaan migas Rp 220,98 triliun, mineral dan batubara Rp 66,82 triliun, panas bumi Rp 516 miliar, dan lain-lain Rp 711,99 miliar.

Sementara untuk produksi, tahun lalu sukses memproduksi batubara sebanyak 275 juta ton, tembaga 989.953 ton, emas 111 ton, perak 323 ton, timah 78.965 ton, nikel dalam matte 78.336 ton, feronikel 17.970 ton, bijih nikel 6.561.404 ton, dan bauksit 7.148.124 ton.

Kambing Hitam

Aktivitas pertambangan dimulai dengan pembukaan lahan (land clearing). Kemudian dilanjutkan dengan konstruksi berbagai sarana dan prasarana pendukung pertambangan, seperti jalan, perumahan, kantor, dumping area, lokasi pabrik untuk pengolahan, lokasi stock pile, pelabuhan, dan lainnya. Hal itu tentu dapat saja mengganggu keseimbangan lingkungan.

Tapi, semua bisa diminimalisasi dengan melakukan rehabilitasi dan reklamasi. Selain itu, akan ada kompensasi yang sangat berharga, di mana roda perekonomian di daerah tersebut pada khususnya akan berjalan.

Nabiel Makarim, mantan menteri Negara Lingkungan Hidup, dalam kuliah umum Pengetahuan Lingkungan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 14 Maret 2006, pernah mengatakan, terdapat empat masalah lingkungan hidup utama yang sedang dihadapi Indonesia.

Keempat masalah itu adalah, pencemaran di daerah urban, pencemaran yang berasal dari sektor industri, pertambangan yang destruktif, serta kerusakan lingkungan alam dan keanekaragaman hayati yang terancam.

Menurut Makarim, pelestarian lingkungan menuntut komitmen dari pemerintah, bisnis (investor), dan masyarakat Dengan demikian, alangkah tidak adil jika selama ini kegiatan pertambangan selalu dijadikan satu-satunya "kambing hitam” dalam kasus kerusakan lingkungan oleh sejumlah penggiat lingkungan.

Bagi profesional pertambangan, istilah good mining practice bukan hal yang asing. Good mining practice, alias menambang yang baik dan benar secara umum dapat diartikan suatu praktik pertambangan yang telah mengikuti seluruh kaidah pertambangan secara holistik. Holistik dalam hal ini meliputi aspek teknis pertambangan, keselamatan kerja, lindungan lingkungan, pemanfaatan, nilai tambah, dan pascatambang. (heriyono)

Sumber : Investor Daily